Kiat Sukses Berinteraksi Dengan Al-Qur’an (4); Nama dan Karakteristik Al-Qur’an (2)

09/04/2010 22:44

2. Al-Kitab

Al-kitab merupakan nama kedua dari Al-Quran Al-karim, nama ini juga banyak disebutkan dalam ayat-ayatnya, selalu diulang dalam surat-suratnya, dan merupakan nama kedua yang terkenal setelah Al-Quran serta sering disebutkan, Al-Kitab merupakan kata yang berarti tertulis, huruf-huruf, kalimat dan ayat-ayatnya terangkai dalam bentuk tulisan dan khot yang rapi…

Dan diantara nama kalamullah yang banyak dikenal adalah dengan dua nama ini Al-Quran dan Al-Kitab, yang berarti penyatuan dan kumpulan, karena Al-Quran berasal dari akar kata “Al-Qiraah” dan “Al-Qaraah” –sebagaimana yang dikatakan oleh Ar-Ragib dalam Mufrodatnya- “yang berarti kumpulan huruf-huruf dan kalimat-kalimat sebagiannya dengan sebagian lain dalam bacaan” [1], sedangkan kata “Al-Kitab” berasal dari akar kata “Al-Kitabah” yang berarti kumpulan huruf-huruf sebagiannya dengan sebagian lain dalam bentuk tulisan…demikian juga dikatakan kumpulan sebagiannya dengan sebagian lain dalam bentuk lafadz. Maka asal kata “Al-Kitabah” adalah susunan dalam bentuk tulisan, namun dipinjam dalam bentuk yang lain yang karena itu kalamullah dinamakan –walaupun tidak tertulis- dengan “kitaban” [2].

Adapun hikmah lain dinamakannya kalamullah dengan dua nama ini : Al-Quran dan Al-ki tab, sebagaimana  yang disebutkan oleh DR. Muhammad Abdullah Darraz dalam bukunya “An-nabaul Adzim” yang ringkasannya adalah : “Bahwa Allah SWT menginginkan dari pemberian dua nama ini untuk merealisasikan penggabungan yang erat terhadap firman-firmannya, mengisyaratkan akan terpeliharanya secara sempurna dan mutlak pada setiap surat, ayat-ayatnya, kalimat-kalimatnya dan huruf-hurufnya, sehingga tidak memberikan kebimbangan terhadap diri seorang muslim walaupun hanya sedikit sehingga timbul pertentangan, penyimpangan atau penghapusan dan pengurangan darinya…karena itu Al-Quran benar-benar terpelihara dengan dua cara yang kongkret yang keduanya merupakan cara yang efektif dalam menghafal dan memelihara, yaitu “Al-Qiraah”  bacaan dan “Al-Kitabah” tulisan; Maka tidak diterima Al-Quran yang dibaca kalau tidak sesuai dengan mushaf Utsmani yang telah ditulis dan disepakti oleh ijma ulama, dan tidak diterima tulisan ayat-ayat Al-Quran kalau tidak sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya tentang Al-Quran, mereka membaca –talaqqi- dihadapan beliau, dan Rasulullah membacakan Al-Quran dihadapan mereka”… [3].

Kitab yang telah Allah turunkan kepada Rasulullah saw adalah merupakan kebenaran yang mutlak tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai hidayah bagi orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah SWT :

الم . ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Alif Lam Mim, itulah Al-Kitab yang tidak ada keraguan didalamnya, pemberi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa…” (Al-Baqoroh : 1-2)

Merupakan kitab yang mengandung hikmah sebagaimana Al-Quran juga mengandung hikmah :

الر تِلْكَ آَيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ 

“Alif Lam Ra, inilah Ayat-ayat Al-kitab yang mengandung hikmah” (Yunus : 1)

Ayat-ayatnya merupakan hukum yang pasti kemudian diberikan penjelasan, dijabarkan dan diterangkan, lalu diberikan kepada manusia untuk diimani oleh mereka

 الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آَيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

“Alif Lam Ra. Inilah dustur Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu”. (Hud : 1)

Allah SWT dan Rasul-Nya saw mengabarkan bahwa telah diturunkan kepadanya Al-Quran untuk mengelurakan manusia dari kegelapan kepada cahaya, dari kedzaliman kufur menuju cahaya iman, dan kitabullah merupakan satu-satunya wasilah –sarana- untuk mengelurkannya dari kegelapan, dan tidak sarana lain selainnya kecuali hanya hayalan, prasangka dan dongengan belaka dan bahkan tidak akan menambah iman kecuali kegelapan.

Allah SWT berfirman :

الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ  

“Alif Lam Ra. Inilah kitab yang Kami turunkan kepadamu –Muhammad saw- agar kamu dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan izin Tuhan mereka menuju jalan  Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.(Ibrahim : 1)

Diberitahukan bahwa telah diturunkan kepadanya peringatan dan Al-Kitab sebagi pemberi penjelasan terhadap segala sesuatu dan merincikannya, dan dengan penjelasan ini tampak hidayah –petunjuk- rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin.

Allah SWT berfirman :

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ 

“Dan telah Kami turunkan kepadamu Al-Kitab pemberi penjelasan terhadap segala sesuatu, petunjuk rahmat dan kabar gembira untuk keum muslimin (An-Nahl : 89)

dan firman Allah SWT :

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan telah Kami turunkan kepadamu -Al-Quran- pemberi peringatan agar dapat kamu beri penjelasan kepada manusia atas apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka mau berfikir”. (An-Nahl : 44)

Bahkan Allah SWT meringkas akan tujuan diturunkannya Al-Kitab selain sebagai pemberi penjelasan, disamping itu Rasulullah saw dituntut untuk melaksanakan dakwah dan menyampaikannya…

 وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

”Dan tidaklah Kami turunkan Al-Kitab kecuali untuk memberi penjelasan kepada mereka yang selalu berselisih didalamnya, pemberi petunjuk, rahmat beri kaum yang beriman”. (An-Nahl : 64).

Disebutkan dalam 3 ayat yang mulia diatas dalam satu surat –yaitu surat An-Nahl- menejalskan tujuan diturunkan Al-Kitab yaitu untuk menjelaskan dan memberikan penjelasan, memerintahkan kepada Rasulullah saw untuk menyampaikan, sehingga hal ini menunjukkan secara khusus akan masalah ini serta menunjukkan akan satu-satunya surat yang membicarakan hal tersebut –yaitu sebagai surat ni’mat, karena adakah ni’mat yang lebih baik dari ni’mat hidayah dan petunjuk yang memberi penjelasan yang terkandung dalam Al-Quran-…sebagaimana menjelaskan akan sighat ayat-ayat yang mulia dengan menggunakan penjelasan Al-Quran dalam bentuk umum kepada manusia seluruhnya, dan dikhususkan lagi di dalamnya dengan memberikan rahmat, petunjuk dan kabar gembira kepada kaum muslimin saja, karena ketiga hal tersebut sangat berkaitan dengan iman, dan tidak akan didapati jika iman tidak dimiliki.

Allah SWT memrintahkan kepada Rasul-Nya untuk memberikan penjelasan, menyampaikan dan memberikan peringatan kepada manusia dan tidak dibolehkan memberikan keringanan atau kesempitan sedikitpun dalam menerapkannya, karena hal tersebut akan menjadi penghalang baginya dalam melaksanakan kewajiban ini, sehingga tidak ada keluh kesah di dalamnya walaupun umat manusia menentangnya dan membuat kejutan terhadap apa yang mereka tidak duga !!! kenapa Rasulullah saw merasa berat padahal beliau tidak pernah mendapatkan hakekat, nilai-nilai, adat, timbangan, prinsip-prinsip dan arahan-arahan dari manusia, namun semua itu berasal dari Tuhan manusia, dan cukuplah Allah SWT yang menjadi saksi, menjadi pendamping bersamanya, menolongnya, meneguhkan hatinya dan memberinya ganjaran atas segala perbuatannya…

Allah SWT berfirman :

المص. كِتَابٌ أُنْزِلَ إِلَيْكَ فَلَا يَكُنْ فِي صَدْرِكَ حَرَجٌ مِنْهُ لِتُنْذِرَ بِهِ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ 

“Alif Lam Mim Shad. Inilah Al-Kitab yang diturunkan kepadamu, maka jangan hatimu menjadi sempit karenanya, agar kamu dapat memberi peringatan dan pelajaran untuk orang-orang  yang beriman”. (Al-A’raf : 1-2)

Allah mengabarkan kepada Rasul-Nya saw akan tugas ini, dengan diturunkan kepadanya Al-Kitab sehingga memiliki eksistensi dan misi, dan membuat kehidupan lebih cerah dengannya, menampakkan pengaruh-pengaruhnya dan memetik buahnya, demikianlah –Al-Kitab- yang memiliki hikmah diantara manusia dengan benar..

Allah SWT berfirman :

 إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا

“Sesungguhnya Kami telah menurukan Al-Kitab kepadamu dengan benar, agar kamu dapat menentukan hukum diantara manusia dengan apa-apa yang Allah berikan kepadamu…”. (An-Nisa : 105)

Allah SWT juga menjelaskan kepada kita sarana yang terkait dengan Al-Kitab al-haq agar dapat merealisasikan eksistensinya secara amali, menjelaskan bahwa yang haq adalah haq sedangkan yang bathil adalah bathil, menuntun umat manusia kepada al-haq, sebagai sarana yang kuat kepada untuk dapat dijaga dan dipelihara, yang dapat menggerakkan pembela kemanusiaan bagi yang menegakkannya dan melaksanakan hukum-hukumnya. tanpa kekuatan ini maka kebenaran hanya sekedar teori jauh dan dari amal di alam realita, lalu berubah menjadi kebenaran yang sia-sia, yang hanya dilakukan oleh para pengecut dan diminimalisir oleh kaum yang lemah, serta diajauhi oleh mereka yang benci !!

Allah SWT berfirman :

 لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sungguh Kami telah mengutus para Rasul Kami dengan jelas. Dan Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan Mizan –Timbangan- agar dapat menegakkan keadilan diantara manusia, dan Kami juga menurunkan besi, yang didalamnya terdapat mudlorat yang besar dan manfaat untuk manusia, dan agar Allah dapat mengetahui siapa yang menolong-Nya dan para Rasul-Nya dengan ghaib, Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Pekasa”. (Al-Hadid : 25).

Al-Quran juga mengisyaratkan akan kewajiban Rasulullah saw untuk mengajarkan umat manusia akan Kitabullah, karena di dalamnya terdapat kisah dakwah nabi Ibrahim, Isma’il AS semenjak zaman yang lampau, Allah memerintahkan kepada keduanya untuk berdoa kepada Allah SWT agar dibangkitkan  di tengah umat manusia seorang Rasul yang menmbawa kebaikan, kesucian, cahaya dan petunjuk…

 رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

”Ya Tuhan kami, bangkitkanlah ditengah-tengah mereka seorang Rasul dari golongan mereka  yang mebecakan ayat-ayat-Mu kepada mereka, mengajarkan Al-Kitab dan hikmah dan mensucikan jiwa mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasalagi Maha Bijaksana”. (Al-Baqoroh : 129).

Allah SWT mengabarkan kepada kita bahwasannya Dia mengabulkan doa dua nabi yang soleh, sebagimana Firman-Nya :

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آَيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ 

“Sebagaimana Kami telah mengutus ditengah-tengah kalian seorang Rasul dari golongan kalian untuk membacakan kepada kalian ayat-ayat Kami, mensucikan kalian dan mengajarkan Al-Kitab dan hikmah serta mengajarkan apa yang kalian belaum ketahui”. (Al-Baqoroh : 151).

Allah juga berfirman menjelaskan akan karunia Rabbaniyah atas kita dengan dibangkitkannya seorang nabi saw, yang mengeluarkan umat ini dengan izin Tuhannya dari kedzaliman kepada cahaya ilahi, dari kesesatan kepada petunjuk, dari kematian kepada kehidupan :

 لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ  

“Sungguh Allah telah memberikan karunia atas orang-orang beriman saat Allah membangkitkan di tengah mereka seorang Rasul dari golongan mereka, membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya dan mensucikan mereka, mengajarkan Al-Kitab dan Hikmah, padahal mereka sebelumnya berada dalam sesat yang nyata”. ( Ali Imron : 164)

Kita sebutkan dalam surat Al-Jumuah yang berkaitan dengan hal diatas, berbicara akan hubungan tema surat dan karakteristiknya yang unik, Allah berfirman :

 هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dialah –Allah- yang membangkitkan ditengah umat yang ummi seorang Rasul dari golongan mereka membacakan ayat-ayat-Nya mensucikan jiwa mereka dan mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah, padahal mereka sebelumnya dalam keadaan sesat yang nyata”. (Al-Jumuah : 2)

Kita perhatikan sighot 3 ayat diatas yang menarik ditelaah, memiliki arahan tarbawiyah yang dalam, seakan dengan 3 ayat ini menunjukkan akan manhaj tarbawi yang baik dan lurus, menyeru kepada para guru, duat, penasehat dan pendidik saat ini, para pembuat konsep dan system pendidikan dan buku-buku ilmiyah untuk meneliti kembali akan isyarat quraniyah ini dengan tinjauan pendidikan…yaitu urutan pendidikan dan pengajaran yang diarahkan oleh Rasulullah saw yang menggunakan “Athof’ dengan huruf “al-waw” mengutamakan atsar (pengaruh) dari membuat bangunan, pendahuluan atas tema, benih dan pohon atas buah dan dahan, muqaddimah atas natijah –hasil-, kita ambil dari sini “athof fiil mudhori” dalam firman-Nya : “Membacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya….dan mensucikan mereka…dan mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah..” yang demikian merupakan 3 fase yang berjenjang dan beriringan dan urutan : pertama membaca Al-Quran sebagai pendahuluan, pengisian, persiapan dan mobilisator, kemudian membersihkan jiwa dan mensucikannya dari penyakit, kotoran, kekurangan dan dosa-dosa, dan terkakhir baru memberikan pengajaran yang dapat mencerahkan dan memberikan wawasan.

Praktek ini merupakan hasil keberkahan dari pohon keimanan dan kebersihan jiwa, hasil yang dicapai dari pendahuluan pengajaran yang benar, sebagai hidayah, rahmat, kebaikan dan kebahagiaan bagi para guru, untuk umat dan manusia sekitar mereka…

Allah mensifatkan Kitab-Nya dengan Al-Barakahi, dan menyeru kita untuk memiliki sifat-sifat ini, menapaki ragam keberkahan Al-Quran yang menyeluruh dan universal. Keberkahan tidak bermakna  biasa dan dikenal kaum muslimin –walaupun hal tersebut tidak bisa dinafikan dalam Al-Quran yaitu memberi al-barokah- namun yang dimaksud dari Al-barokah dari segi Al-Quran -sebagaimana yang diungkapkan oleh Ar-Rogib Al-Asfahani dalam kitabnya “Al-Mufrodat”- adalah : “Al-barokah adalah kebaikan ilahi yang menyeluruh pada segala hal, dinamakan hal tersebut seperti tetapnya air dalam kolam, dan “al-Mubarok” adalah didalamnya terdapat kebaikan, seperti firman-Nya

 لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Inilah –kitab- yang memberi peringatan, keberkahan yang telah Kami turunkan”. (Al-Anbiya : 50

sebagai peringatan akan banyaknya kebaiakn ilahi..” sampai kepada ungkapan : “…selama kebaikan ilahi mengeluarkan sesuatu yang tidak dapat dirasakan,- yang tidak terhitung dan tidak terbatas, maka dikatakan segala sesuatu yang datang darinya merupakan tambahan yang tidak terasa adalah keberkahan dan didalamnya barakah…” [4]

Maka Kitabullah yang mulia ini memberikan keberkahan dengan segala aspek dan ragamnya, memunculkan penomena keberkahan dan wacana-wacannya, dasar-dasar dan cabang-cabangnya…

Allah berfrman :

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا

“Dan inilah Kitab yang telah Kami turunkan sebagai pemberi berkah, pemberi kebenaran dari hadapannya, dan untuk m emberikan peringatan Ummul Qora dan penduduk sekitarnya…” (Al-An’am : 92)

Dan Firman Allah :

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan inillah Al-Kitab yang telah Kami turunkan, maka ikutilah dan bertaqwalah agar kalian mendapat rahmat”. (Al-An’am : 155)

Dan Firman Allah :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Kitab yang telah Kami Turunkan kepadamu memberikan barokah, agar mereka mau mentadabburkan ayat-ayt-Nya dan menjadi ingatan bagi ulul albab”. (Shad : 29)

Dalam Al-Quran terdapat ayat yang mulia yang membagi umat Islam tiga golongan ketika berinteraksi dengan Al-Quran, padahal mereka telah diwariskan Al-Quran –kitabullah-, namun mereka tidak berada dalam satu tingkatan  dalam menerima warisan ini, mereka tidak dalam satu tingkatan dalam mengemban amanah ini –warisan  yang mulia-, harta yang berharga, dan barokah yang luas; maka diantara mereka ada yang mendzlalimi diri mereka sendiri dalam berinteraksi dengan kitabullah sehingga mereka kurang dalam menunaikan kewajiban dan selalu melanggar kesalahan, dan diantara mereka ada yang pertengahan, tidak ingin meningkatkan ketaatannya dari kemaksiatan dan sebaliknya, adapun golongan ketiga adalah yang mendapat kemenangan yaitu yang berlomba dalam mengamalkan kebajikan, meningkatkan ketaatan, serta banyak melakukan kebaikan-kebaikan.

Allah berfirman :

 ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ 

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.  Yang demikian itu adalah karunia yang sangat besar”. (Fathir : 32).

 ______________________________________

[1]. Mufrodat al-Qur’an, hal. 402

[2]. Mufrodat al-Qur’an, hal. 423

[3]. Lihat:  An-Nabaul Adzim

[4]. Mufrodat al-Qur’an, hal. 44

Back

Poll

Do you like our website me ?

Yes (128) 90%

No (6) 4%

Nothing (9) 6%

Total votes: 143

Search site

=====****INDAHNYA BERBAGI****====